WARTASUAR.COM, KENDARI – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua menjadi narasumber utama dalam Seminar Nasional Jurusan Ilmu Lingkungan Fakultas Kehutanan dan Ilmu Lingkungan Universitas Halu Oleo (FHIL UHO) yang mengangkat tema “Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim dalam Mewujudkan Ketahanan Pangan, Air, dan Energi Berkelanjutan.” Kegiatan ini berlangsung di salah satu Hotel di Kendari, Senin (03/11), dan dibuka secara resmi oleh Plt. Rektor UHO, Dr. Herman.
Acara tersebut dihadiri oleh perwakilan Direktorat Jenderal Minyak dan Gas Bumi Kementerian ESDM RI, Lembaga Riset Internasional IPB University, para rektor perguruan tinggi di Sultra, serta dosen dan guru besar UHO.
Dalam pemaparannya, Wagub Hugua menegaskan bahwa isu lingkungan tidak hanya terkait ekologi, tetapi juga mencerminkan kepemimpinan dan peradaban manusia. “Environment is not ideology, it is leadership. Kepemimpinan lingkungan itu sederhana — percaya kepada Tuhan, menghargai manusia, dan seluruh ciptaannya. Jika tidak, manusialah yang menjadi perusak bumi,” ujarnya.
Hugua membawakan materi bertajuk “Kebijakan Lingkungan dan Best Practices di Kabupaten Wakatobi 2006–2016”, yang menggambarkan keberhasilan penerapan pembangunan berkelanjutan di daerah yang pernah ia pimpin dua periode.
Akar Kerusakan dan Filosofi Alam menurut Hugua, kerusakan lingkungan muncul karena ketidakseimbangan antara unsur biotik, abiotik, dan sosial-kultural, diperparah oleh keserakahan manusia sejak revolusi industri. “Ketika mesin uap ditemukan, dimulailah pergeseran budaya lokal menjadi budaya global. Kapitalisme dan imperialisme mendorong eksploitasi alam besar-besaran — inilah akar kerusakan yang kita rasakan hari ini,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa filsafat lingkungan berakar pada kesadaran spiritual dan sosial: Syukur kepada Tuhan, kepada alam semesta, dan kepada sesama manusia — itulah tiga fondasi utama lingkungan.
Wagub Hugua juga menekankan pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi dan pemerintah daerah untuk membangun SDM yang peka terhadap isu lingkungan. “Perguruan tinggi memproduksi manusia, pemerintah adalah user-nya. Harus ada kesinambungan antara visi nasional, daerah, dan kampus,” tegasnya.
Ia menganalogikan perguruan tinggi seperti pesawat yang dikemudikan rektor. Jika tidak tahu arah dan visi daerah, pesawat itu takkan pernah mendarat dengan baik di tanah otonomi.
Hugua memaparkan tiga program utama: 1. Revitalisasi lembaga adat sebagai mitra pelestarian kearifan lokal. 2. Reformasi birokrasi berbasis budaya lokal melalui pelatihan Out of the Box Mindset Change. 3. Penguatan jejaring lokal, nasional, dan global menjadikan Wakatobi pusat pembelajaran konservasi laut dunia.
Selama masa kepemimpinannya, Wakatobi mencatat, Pertumbuhan ekonomi mencapai 13,67 persen, PDRB per kapita meningkat dua kali lipat, Pengangguran turun hingga 5 persen, Kualitas lingkungan meningkat signifikan, dengan turunnya praktik illegal fishing dan naiknya kesadaran konservasi.
Menutup sesi, Hugua menegaskan bahwa pembangunan berkelanjutan hanya bisa terwujud melalui kepemimpinan yang arif dan berpijak pada kearifan lokal. “Kearifan lokal itu sederhana tapi sangat canggih. Kalau kita memberi kepada alam, alam akan memberi tanpa batas. Itulah esensi pembangunan berkelanjutan,” pungkasnya. (end)



















