WARTASUAR.COM – Petani di Desa Kamisi berharap Perum Bulog hadir menyerap gabah hasil panen mereka. Selain menghadapi penurunan produksi akibat kemarau panjang, petani juga membutuhkan kepastian pembeli agar hasil panen dapat dipasarkan dengan harga yang layak.
H. Paharuddin, petani di Desa Kamisi, mengatakan gabah yang dihasilkan saat ini dibeli pedagang lokal dengan harga sekitar Rp5.500 per kilogram. Menurutnya, hingga wawancara berlangsung, Bulog belum melakukan pembelian gabah di lokasi tersebut.
“Sekarang Rp5.500. Pembelinya dari lokal, kalau Bulog belum masuk,” ujar Paharuddin.
Ia menjelaskan, pola penjualan gabah petani tidak selalu dilakukan dalam jumlah besar. Sebagian petani menjual hasil panennya sedikit demi sedikit, sementara pembeli yang mengambil gabah dalam jumlah besar biasanya membutuhkan pasokan hingga beberapa ton.
Situasi itu membuat petani berharap ada akses pemasaran yang lebih mudah, termasuk melalui penyerapan gabah oleh Bulog. Dengan demikian, petani memiliki alternatif pembeli selain pedagang lokal.
Harapan tersebut muncul ketika petani juga menghadapi tekanan akibat kemarau panjang. Paharuddin memperkirakan hasil panennya berkurang sekitar 30 persen dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, saat persawahan masih mendapat pasokan air hujan.
Ia mengaku khawatir jika kemarau terus berlanjut dan ketersediaan air tidak membaik. Kondisi itu berpotensi menambah kesulitan petani dalam mempertahankan produksi pada musim tanam berikutnya.
Paharuddin berharap pemerintah memberi perhatian terhadap kebutuhan petani, baik melalui dukungan pengairan maupun akses penjualan hasil panen.
Sebagai informasi, pemerintah menetapkan Harga Pembelian Pemerintah (HPP) gabah kering panen sebesar Rp6.500 per kilogram di tingkat petani pada 2026. Kebijakan itu tercantum dalam Instruksi Presiden Nomor 4 Tahun 2026 tentang Pengadaan dan Pengelolaan Gabah/Beras Dalam Negeri serta Penyaluran Cadangan Beras Pemerintah Tahun 2026–2029. .(lea)




















