WARTASUAR.COM, KENDARI – Wakil Gubernur Sulawesi Tenggara, Hugua menegaskan pentingnya peran strategis pemuda dalam proses perumusan dan pelaksanaan kebijakan publik. Hal itu disampaikannya saat menjadi narasumber utama pada Seminar bertema “Ruang Partisipasi Pemuda dalam Kebijakan Publik” yang digelar oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi Ilmu Politik Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Halu Oleo (UHO), di Aula Bahtiar FISIP UHO, Jumat (31/10).
Kegiatan ini dihadiri oleh Dekan FISIP UHO, Ketua Jurusan Ilmu Politik dan Pemerintahan, Sekretaris Jurusan, para dosen, serta ratusan mahasiswa dari berbagai program studi. Selain Wakil Gubernur Sultra, hadir pula Anggota DPRD Kabupaten Kolaka Timur dan Anggota DPRD Kabupaten Konawe Selatan yang turut memberikan pandangan terkait dinamika partisipasi pemuda dalam kebijakan publik.
Dalam pemaparannya, Hugua menyampaikan bahwa pemuda masa kini bukan lagi sekadar penerus bangsa, melainkan aktor kunci dalam menentukan arah pembangunan dan kebijakan publik. “Pemuda sekarang bukan hanya pewaris, tapi pelaku utama dalam menentukan arah kebijakan. Mereka harus memahami proses kebijakan dari perumusan hingga pengawasan agar kebijakan yang lahir benar-benar relevan dan berpihak pada rakyat,” ujar Hugua.
Ia menambahkan, kemampuan memahami sejarah, geopolitik, dan konteks sosial sangat penting bagi pemuda agar mampu berperan strategis dalam pembangunan daerah. “Kalau kita tidak memahami masa lalu, kita akan kehilangan arah. Tapi kalau kita belajar dari kompleksitas masa lalu, kita bisa merancang masa depan dengan bijak,” ucapnya.
Hugua juga mengajak mahasiswa menelusuri tiga tonggak sejarah kebangkitan nasional — Budi Utomo (1908), Sumpah Pemuda (1928), dan Proklamasi Kemerdekaan (1945) — sebagai refleksi penting bagi generasi muda untuk terus menjaga semangat persatuan dan perjuangan bangsa. “Dulu, kaum muda bisa bersatu melawan penjajahan. Sekarang, tantangan kita adalah melawan keterbelakangan dan sikap apatis terhadap bangsa sendiri,” tambahnya.
Dalam konteks Sulawesi Tenggara, Hugua menekankan bahwa pemuda harus memahami potensi daerahnya, terutama dalam tiga sektor utama penggerak ekonomi daerah: pertanian dalam arti luas, industri hilirisasi, dan pariwisata. “PDRB Sultra masih didominasi sektor pertanian, sementara sektor tambang lebih banyak berkontribusi ke pendapatan pusat. Karena itu, generasi muda harus mampu menciptakan nilai tambah dari potensi lokal yang ada,” jelasnya.
Selain membahas ekonomi, Hugua juga menyinggung pentingnya kematangan karakter dan kejiwaan dalam kepemimpinan. Ia mengutip pandangan tokoh dunia Tony Robbins yang menyebut bahwa kesuksesan seseorang lebih banyak ditentukan oleh kecerdasan emosional (EQ) dan spiritual (SQ) daripada sekadar pengetahuan (IQ). “IPK 4,0 saja tidak cukup kalau tidak punya akal budi, tata krama, dan kearifan lokal. Kecerdasan sejati adalah keseimbangan antara ilmu pengetahuan dan nilai budaya,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan mahasiswa untuk terus menanamkan nilai-nilai luhur budaya Sulawesi Tenggara, seperti kalosara dan lembaga adat, yang mengajarkan kearifan dan harmoni sosial.
Menutup paparannya, Hugua mengajak mahasiswa menjadi bagian dari Generasi Emas Indonesia 2045 yang unggul tidak hanya dalam pengetahuan, tetapi juga dalam visi, keterampilan, perilaku, dan karakter. “Generasi emas itu bukan hanya cerdas, tapi juga punya visi juara, skill juara, perilaku juara, dan karakter juara. Itulah yang akan membawa bangsa ini maju dan berdaya saing,” pungkasnya. (end)



















