Menu ✖

Mode Gelap
Produksi Gabah dari 4 Ton Jadi 10 Ton per Hektare, Pundoho Didorong Jadi Percontohan PMAAS Kisah Pilu Pasutri Lansia Hidup di Gubuk Beratap Terpal di Lahan Orang, Wabup Kolut Turun Langsung Beri Bantuan Dari Mangkutana ke Kolut, Beras Dikemas Ulang Pedagang Malah Susut Saat Ditimbang Beras Berlabel 10 Kg Ditimbang Cuma 8 Kg, Dinas Perdagangan Kolut Turun Tangan Ribuan Diduga Keracunan MBG: Dimana Efektivitas Pengawasan Keamanan Pangan? Penguatan Pendidikan dengan Kurikulum Berbasis Cinta: Membangun Generasi Berkarakter, Berilmu, dan Berakhlak Mulia

Headline

Produksi Gabah dari 4 Ton Jadi 10 Ton per Hektare, Pundoho Didorong Jadi Percontohan PMAAS

badge-check


 Produksi Gabah dari 4 Ton Jadi 10 Ton per Hektare, Pundoho Didorong Jadi Percontohan PMAAS Perbesar

WARTASUAR.COM  –  Sawah di Desa Pundoho, Kecamatan Pakue Utara, Kolaka Utara, mulai diuji dengan pola pertanian modern melalui program Pertanian Modern Abad Agrikultur Sistem (PMAAS).

 

Bukan sekadar mengejar luas tanam, program ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas. Lahan yang sebelumnya menghasilkan sekitar 4 ton gabah per hektare ditargetkan mampu mencapai produksi hingga 10 ton per hektare.

 

Kepala Balai Besar Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tenggara, Kamri Alwi, mengatakan potensi peningkatan produksi di Pundoho cukup terbuka setelah melihat kondisi lahan, air dan tanah.

 

“Kalau sebelumnya sekitar empat ton, setelah kita lihat air dan kondisi tanahnya, saya kira bisa sampai 10 ton,” kata Kamri saat menghadiri Gerakan Tanam PMAAS di Desa Pundoho, Sabtu (3/10/2026).

 

Ia menjelaskan, PMAAS mengatur budidaya padi secara lebih terukur, mulai dari penggunaan benih, kepadatan tanaman, pemupukan, pengelolaan air hingga pengendalian hama.

 

Salah satu yang ditekankan adalah pengaturan air. Sawah tidak terus-menerus digenangi, tetapi dijaga dalam kondisi macak-macak agar akar tanaman berkembang lebih kuat.

 

Menurut Kamri, pola tanam yang lebih padat juga membutuhkan dukungan sarana produksi yang tepat. Petani PMAAS mendapatkan dukungan pupuk bersubsidi dengan dosis yang disesuaikan, sementara benih yang digunakan harus melalui proses pengujian mutu.

 

“Kalau air terlalu banyak, akar tidak turun. Kita mau akar turun supaya tanaman kuat dan tidak mudah rebah,” jelasnya.

 

Kamri juga mendorong penanaman dilakukan secara serentak dalam satu hamparan. Pola tersebut dinilai memudahkan pengendalian organisme pengganggu tanaman hingga penggunaan teknologi penyemprotan dengan drone jika luasan hamparan memungkinkan.

 

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Kolaka Utara, Nusba Nuhung, mengatakan Pundoho menjadi salah satu lokasi penerapan PMAAS di Kolaka Utara.

 

Hamparan sawah Pundoho sekitar 50 hektare. Sementara total areal persawahan di Kecamatan Pakue Utara mencapai sekitar 170 hektare yang tersebar di Desa Pundoho, Amoi, Teposua, Mateliono dan Pakue.

 

Nusba mengatakan peningkatan produktivitas menjadi tantangan penting bagi pertanian Kolaka Utara. Karena itu, penerapan PMAAS diharapkan dapat memberikan gambaran mengenai potensi peningkatan hasil produksi melalui teknologi dan pola budidaya yang lebih terukur.

 

Gerakan tanam tersebut dihadiri Sekda Kolaka Utara H. Muhammad Idrus, Wakil Ketua DPRD Muhammad Syair, Ketua Komisi II DPRD Busra, Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Nusba Nuhung, Kepala Dinas Perkebunan dan Peternakan Kamal Mustafa, Kepala Dinas PU Patehuddin, BRMP Sulawesi Tenggara, penyuluh pertanian dan kelompok tani.

 

Sekda Kolaka Utara H. Muhammad Idrus mengatakan pemerintah daerah menyambut program yang dapat membuka akses petani terhadap program dan dukungan pemerintah pusat.

 

“Kalau ada program-program dari kementerian yang bisa kita sambungkan dengan petani, tentu kita sambut. Yang penting bagaimana informasi dan peluang itu sampai kepada petani melalui dinas dan penyuluh,” kata Idrus.

 

Ia mengatakan potensi pertanian dan perkebunan Kolaka Utara masih cukup besar sehingga dukungan program dari pemerintah pusat perlu dimanfaatkan untuk memperkuat sektor tersebut.

 

Menurut Idrus, pemerintah daerah juga perlu mengetahui kebutuhan operasional di lapangan agar dapat dikoordinasikan dengan perangkat daerah terkait.

 

“Kita akan lihat apa yang dibutuhkan di lapangan. Kalau memang ada kebutuhan yang harus didukung, kita komunikasikan dengan perangkat daerah terkait,” ujarnya.

 

Penerapan PMAAS di Pundoho juga menjadi bagian dari kontribusi Kolaka Utara terhadap target pengembangan pertanaman padi Sulawesi Tenggara seluas 17.533 hektare.

 

Bagi petani Pundoho, program tersebut kini menjadi pembuktian apakah pola pertanian modern mampu mengangkat hasil panen dari rata-rata sebelumnya sekitar 4 ton per hektare menuju produksi yang jauh lebih tinggi.(Lea)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Kisah Pilu Pasutri Lansia Hidup di Gubuk Beratap Terpal di Lahan Orang, Wabup Kolut Turun Langsung Beri Bantuan

2 Oktober 2026 - 20:15 WITA

Kedapatan Busur dan Katapel, Pelajar Diamankan Polresta Kendari

29 September 2026 - 17:56 WITA

PT Vale Boyong UMKM Binaan ke Pameran Kriyanusa 2026

29 September 2026 - 17:16 WITA

Perlukah Dewan Kode Etik Pejabat Publik?

28 September 2026 - 13:54 WITA

Perkuat Mitigasi Kebakaran, PT Vale Bangun Fire Shelter Pertama di Bungku Timur

26 September 2026 - 16:26 WITA

Trending di Headline