Menu ✖

Mode Gelap
Ribuan Diduga Keracunan MBG: Dimana Efektivitas Pengawasan Keamanan Pangan? Penguatan Pendidikan dengan Kurikulum Berbasis Cinta: Membangun Generasi Berkarakter, Berilmu, dan Berakhlak Mulia Pendapatan Kolut Turun Rp85,5 Miliar, DPRD Setujui Perubahan APBD 2026 15 Rumah Penerima BSPS di Kolut Dapat Tambahan Bantuan Gotong Royong Bedah Rumah Gun Start Kakao Kolut Pengembangan Ekonomi Daerah: OJK Fasilitasi Petani Dapatkan Pembiayaan hingga Kepastian Pasar Kedapatan Busur dan Katapel, Pelajar Diamankan Polresta Kendari

OPINI

Penguatan Pendidikan dengan Kurikulum Berbasis Cinta: Membangun Generasi Berkarakter, Berilmu, dan Berakhlak Mulia

badge-check


 Penguatan Pendidikan dengan Kurikulum Berbasis Cinta: Membangun Generasi Berkarakter, Berilmu, dan Berakhlak Mulia Perbesar

Oleh: M. Hasan (penulis adalah seorang akademisi)

 

Pendidikan tidak boleh berhenti pada persoalan seberapa banyak pengetahuan yang mampu dikuasai peserta didik. Pendidikan yang kehilangan dimensi kemanusiaan berisiko melahirkan manusia yang cerdas secara intelektual, tetapi lemah dalam empati, tanggung jawab, dan akhlak. Karena itu, gagasan Kurikulum Berbasis Cinta (KBC) yang dikembangkan Kementerian Agama patut dibaca bukan sekadar sebagai inovasi pembelajaran, melainkan sebagai upaya memperkuat dimensi kemanusiaan dalam pendidikan.

 

Secara kebijakan, KBC bukanlah kurikulum baru yang menggantikan kurikulum yang sedang berlaku. Kementerian Agama melalui Keputusan Direktur Jenderal Pendidikan Islam Nomor 6077 Tahun 2025 menetapkan Panduan Kurikulum Berbasis Cinta sebagai acuan pelaksanaan pembelajaran di madrasah. Panduan tersebut menempatkan nilai cinta sebagai landasan untuk memperkuat karakter, kebinekaan, kualitas pendidikan, dan lingkungan pendidikan yang harmonis.

 

Di sinilah pentingnya memahami makna “cinta” secara substantif. Cinta dalam pendidikan bukan sekadar ungkapan emosional atau slogan yang ditempelkan pada ruang kelas. Cinta harus diterjemahkan menjadi sikap menghargai peserta didik, menghormati perbedaan, membangun empati, mencegah kekerasan dan perundungan, menghargai ilmu pengetahuan, menjaga lingkungan, serta menumbuhkan tanggung jawab sosial.

 

Panduan KBC Kementerian Agama mengarahkan pendidikan pada pembentukan sumber daya manusia yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik dan kognitif, tetapi juga memiliki karakter positif, kemampuan berkomunikasi, etos kerja, kemampuan memecahkan masalah, toleransi, kepedulian, serta keseimbangan kehidupan. Dengan demikian, pendidikan diposisikan sebagai proses pembentukan manusia secara utuh, bukan sekadar proses transfer pengetahuan.

 

Cinta Tidak Boleh Berhenti sebagai Slogan

 

Tantangan terbesar KBC justru terletak pada implementasinya. Pendidikan berbasis cinta akan kehilangan makna apabila hanya menjadi jargon administratif dalam dokumen sekolah atau madrasah. Ia harus terlihat dalam perilaku guru, kepala madrasah, tenaga kependidikan, peserta didik, bahkan dalam cara lembaga pendidikan memperlakukan seluruh warga sekolah.

 

Guru, misalnya, tidak cukup hanya mengajarkan tentang toleransi. Guru harus memperlihatkan bagaimana menghormati perbedaan. Guru tidak cukup berbicara tentang akhlak. Ia harus menjadi teladan akhlak. Guru tidak cukup meminta peserta didik mencintai ilmu. Ia sendiri harus menunjukkan kegembiraan dalam belajar, berdialog, bertanya, meneliti, dan memperbarui pengetahuan.

 

Dengan kata lain, KBC menuntut perubahan dari pendidikan tentang nilai menjadi pendidikan melalui keteladanan nilai.

 

Panduan resmi KBC juga menekankan pengembangan karakter melalui keteladanan, pendekatan holistik, serta keterlibatan komunitas. Artinya, keberhasilan KBC tidak dapat dibebankan kepada guru seorang diri. Orang tua, madrasah, masyarakat, dan pemangku kebijakan harus menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang sama.

 

Mengintegrasikan Ilmu, Karakter, dan Akhlak

 

Salah satu kekuatan gagasan KBC terletak pada upaya mempertemukan ilmu dan akhlak. Pendidikan sering kali terjebak dalam dikotomi antara kecerdasan akademik dan pembentukan karakter. Padahal, keduanya tidak semestinya dipisahkan.

 

Peserta didik membutuhkan ilmu untuk memahami dunia, tetapi membutuhkan akhlak untuk menentukan bagaimana ilmu tersebut digunakan. Kecerdasan tanpa moral dapat kehilangan arah, sedangkan moral tanpa penguasaan ilmu dapat kehilangan daya untuk menyelesaikan persoalan kehidupan.

 

Karena itu, mencintai ilmu harus menjadi bagian penting dari pendidikan. Peserta didik perlu dibiasakan bertanya, membaca, berdiskusi, meneliti, menguji informasi, dan berpikir kritis. Pada saat yang sama, mereka perlu memahami bahwa ilmu harus melahirkan kemaslahatan, bukan kesombongan; tanggung jawab, bukan penyalahgunaan kekuasaan.

 

Dalam kerangka ini, cinta kepada Allah dan Rasul, cinta kepada ilmu, cinta kepada diri dan sesama, cinta kepada lingkungan, serta cinta kepada tanah air dapat menjadi orientasi nilai yang saling berhubungan dalam proses pendidikan. KBC memang dirancang untuk mengintegrasikan nilai-nilai tersebut ke dalam proses pendidikan, bukan menjadikannya sebagai materi yang berdiri sendiri.

 

Dari Ruang Kelas Menuju Budaya Pendidikan

 

Persoalan pendidikan sesungguhnya tidak hanya berada di dalam buku teks atau ruang kelas. Budaya sekolah turut menentukan karakter peserta didik. Sekolah yang penuh tekanan, diskriminasi, kekerasan verbal, perundungan, atau ketidakadilan akan sulit membentuk generasi yang memiliki empati dan akhlak mulia hanya melalui ceramah.

 

Sebaliknya, lingkungan pendidikan yang aman, adil, dialogis, dan menghargai martabat peserta didik dapat menjadi ruang pembelajaran karakter yang nyata.

 

Karena itu, implementasi KBC harus menyentuh budaya kelembagaan. Cara guru memberikan teguran, cara kepala madrasah mengambil keputusan, cara sekolah menyelesaikan konflik, cara peserta didik memperlakukan temannya, hingga cara lembaga menghargai tenaga pendidik semuanya merupakan bagian dari pendidikan karakter.

 

Kementerian Agama sendiri telah mendorong implementasi KBC melalui berbagai kegiatan penguatan di daerah. Di Sulawesi Selatan, misalnya, sosialisasi KBC kepada sekitar 300 guru PAI tingkat SMP, SMA, dan SMK di Kota Makassar pada Agustus 2025 menegaskan bahwa KBC diintegrasikan ke dalam pembelajaran dan tidak hanya dibebankan kepada mata pelajaran agama.

 

Hal ini penting. Pendidikan karakter tidak akan berhasil apabila hanya diserahkan kepada guru Pendidikan Agama Islam atau guru Pendidikan Pancasila. Karakter adalah tanggung jawab seluruh ekosistem pendidikan.

 

Tantangan Implementasi

 

Namun, optimisme terhadap KBC harus tetap disertai sikap kritis. Sebuah kebijakan pendidikan tidak otomatis berhasil hanya karena telah memiliki regulasi dan panduan.

 

Ada sekurang-kurangnya tiga tantangan yang perlu diperhatikan.

 

Pertama, kesiapan guru. Guru membutuhkan pemahaman yang utuh mengenai konsep KBC agar tidak menerjemahkan “cinta” secara sempit sebagai kelembutan tanpa disiplin. Pendidikan berbasis cinta tetap membutuhkan aturan, batas, tanggung jawab, dan evaluasi.

 

Kedua, konsistensi keteladanan. Peserta didik akan lebih mudah menangkap perilaku yang mereka lihat daripada nasihat yang mereka dengar. Karena itu, kesenjangan antara nilai yang diajarkan dan praktik yang dilakukan oleh orang dewasa di lingkungan pendidikan harus diminimalkan.

 

Ketiga, evaluasi implementasi. Keberhasilan KBC tidak cukup diukur dari jumlah kegiatan, seminar, workshop, atau dokumen perangkat pembelajaran. Evaluasi harus melihat perubahan nyata dalam budaya belajar, relasi guru dan peserta didik, perilaku sosial, penghargaan terhadap perbedaan, kepedulian lingkungan, dan perkembangan karakter.

 

Panduan KBC sendiri telah menempatkan monitoring dan evaluasi sebagai bagian dari implementasi, dengan pelibatan Direktorat Jenderal Pendidikan Islam, Kanwil Kemenag, Kemenag kabupaten/kota, pengawas madrasah, serta komite atau masyarakat.

 

Jangan Sampai Cinta Kehilangan Makna

 

Kurikulum berbasis cinta pada akhirnya bukan tentang memperbanyak istilah baru dalam dunia pendidikan. Tantangan sesungguhnya adalah bagaimana menjadikan cinta sebagai etos pendidikan.

 

Cinta kepada peserta didik berarti menghargai mereka sebagai manusia yang sedang tumbuh, bukan sekadar angka dalam daftar nilai. Cinta kepada ilmu berarti membangun budaya akademik yang sehat. Cinta kepada sesama berarti menolak diskriminasi, kekerasan, dan perundungan. Cinta kepada lingkungan berarti membangun kesadaran ekologis. Cinta kepada tanah air berarti menumbuhkan tanggung jawab untuk menjaga persatuan dan berkontribusi bagi bangsa.

 

Pendidikan yang demikian tidak berarti pendidikan yang lunak tanpa disiplin. Justru sebaliknya, cinta harus melahirkan disiplin yang manusiawi, ketegasan yang mendidik, dan evaluasi yang adil.

 

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak peserta didik yang memperoleh nilai tinggi, tetapi juga manusia seperti apa yang lahir dari proses pendidikan tersebut.

 

Jika pendidikan mampu melahirkan manusia yang berilmu, berkarakter, memiliki empati, menghargai perbedaan, mencintai lingkungan, mencintai bangsanya, dan menjadikan ilmu sebagai jalan pengabdian, maka pendidikan telah menjalankan fungsi kemanusiaannya.

 

Kurikulum Berbasis Cinta karena itu layak ditempatkan sebagai momentum untuk memperkuat kembali hakikat pendidikan: mencerdaskan manusia tanpa kehilangan kemanusiaannya, membangun ilmu tanpa memisahkannya dari akhlak, serta membentuk generasi yang kuat secara intelektual sekaligus luhur dalam perilaku.

 

Sebab, pendidikan yang hanya menghasilkan manusia pintar belum tentu menghasilkan manusia yang bijaksana. Tetapi pendidikan yang mempertemukan ilmu, karakter, cinta, dan akhlak memiliki peluang lebih besar untuk melahirkan generasi yang bukan hanya mampu menghadapi masa depan, melainkan juga mampu menjaga kemanusiaan di dalamnya. (*)

Facebook Comments Box

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Baca Lainnya

Ribuan Diduga Keracunan MBG: Dimana Efektivitas Pengawasan Keamanan Pangan?

1 Oktober 2026 - 05:53 WITA

Trending di OPINI