WARTASUAR.COM – Desil 1 menjadi kelompok dengan persentase tertinggi dalam Data Desil Nasional versi 4 di Kabupaten Kolaka Utara. Tercatat sebanyak 12,91 persen masyarakat berada pada Desil 1, kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah.
Angka tersebut lebih tinggi dibandingkan dengan Desil 10 yang tercatat 7,06 persen. Selisih keduanya mencapai 5,85 poin persentase.
Data Desil Nasional versi 4 dengan kode wilayah 7408 Kolaka Utara mencatat Desil 2 sebesar 11,43 persen, Desil 3 sebesar 8,38 persen, Desil 4 sebesar 8,21 persen, Desil 5 sebesar 11,09 persen, dan Desil 6 sebesar 7,53 persen.
Kemudian, Desil 7 sebesar 8,20 persen, Desil 8 sebesar 9,29 persen, Desil 9 sebesar 9,12 persen, dan Desil 10 sebesar 7,06 persen. Sementara itu, kategori nond esil tercatat 6,77 persen.
Dengan komposisi tersebut, Desil 1 menjadi kelompok terbesar, disusul Desil 2 dan Desil 5. Sementara itu, dari 10 kelompok desil, persentase terendah berada pada Desil 10.
Secara umum, Desil 1 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling rendah, sedangkan Desil 10 merupakan kelompok dengan tingkat kesejahteraan relatif paling tinggi.
Kepala BPS Kolaka Utara Dini Amirul menjelaskan, posisi desil tidak ditentukan oleh satu faktor saja. Data yang digunakan berasal dari berbagai sumber, sedangkan kondisi sosial ekonomi masyarakat bersifat dinamis.
“Banyak faktor sebenarnya bisa menyebabkan desil itu berubah,” jelas Dini Amirul.
Menurutnya, sumber data yang digunakan antara lain berasal dari Pertamina, PLN, perbankan, Kementerian Sosial, hingga BKKBN.
“Jadi kita tidak bisa sebut bahwa cuma satu data yang menyebabkan kenaikan desil, tapi banyak faktor yang menyebabkan bisa naik desilnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat yang berada pada desil tinggi juga masih dapat mengalami perubahan posisi apabila kondisi sosial ekonominya berubah. Namun, perubahan tersebut tidak serta-merta terjadi hanya karena seseorang terlibat dalam pinjaman online.
“Desil tinggi bisa berubah apabila ada perubahan kondisi ekonomi yang tercatat dalam sumber data. Tetapi, keterlibatan dalam pinjaman online tidak otomatis menjadi faktor yang menentukan perubahan desil,” jelasnya.
Perubahan kondisi sosial ekonomi rumah tangga dapat memengaruhi posisi desil. Karena itu, masyarakat yang merasa kondisi sebenarnya sudah berubah, tetapi posisi desilnya masih belum sesuai, dapat melakukan pengecekan dan mengajukan pemutakhiran data.
Masyarakat dapat mengecek status data melalui situs Cek Bansos Kementerian Sosial di cekbansos.kemensos.go.id. Pengecekan dapat dilakukan dengan memasukkan data wilayah dan nama sesuai identitas.
Selain melalui situs Cek Bansos, masyarakat juga dapat datang langsung ke kantor BPS untuk memperoleh informasi dan berkonsultasi terkait data desil. Masyarakat dapat menyampaikan perubahan kondisi sosial ekonomi melalui kanal pemutakhiran data yang telah disediakan pemerintah, termasuk melalui pemerintah desa atau kelurahan dan pendamping desa.
“Jangan cuma diam saja, masyarakat sebenarnya bisa mengambil peran dengan melakukan update secara mandiri,” ujarnya.
Pemutakhiran tersebut penting, terutama bagi masyarakat yang secara kondisi sudah lebih mampu, tetapi masih tercatat dalam kelompok desil rendah. Dengan memperbarui data sesuai kondisi sebenarnya, pemeringkatan kesejahteraan dapat lebih mencerminkan keadaan masyarakat.
Sebaliknya, masyarakat yang kondisi ekonominya memang masih rendah juga perlu memastikan data mereka tercatat dengan benar agar tidak kehilangan kesempatan menjadi sasaran program yang diperuntukkan bagi kelompok yang membutuhkan.
Dini Amirul menegaskan, perubahan desil bukan semata-mata akibat satu data. Pemutakhiran dilakukan berdasarkan berbagai sumber sehingga kondisi masyarakat dapat tergambar secara lebih menyeluruh.(lea)




















