WARTASUAR.COM – Perubahan desil dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) menjadi perhatian masyarakat di Kabupaten Kolaka Utara. Sejumlah warga mempertanyakan mengapa posisi desil mereka berubah, bahkan ada yang merasa kondisi ekonominya tidak banyak berubah tetapi desilnya justru meningkat.
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Kolaka Utara, Dini Amirul Tentu, menjelaskan perubahan desil tidak disebabkan oleh satu faktor saja. Data yang digunakan untuk menentukan desil bersumber dari berbagai instansi dan diperbarui secara berkala.
“Banyak faktor sebenarnya bisa menyebabkan desil itu berubah,” kata Dini saat ditemui, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, salah satu faktor yang dapat memengaruhi perubahan desil adalah adanya data pinjaman, termasuk pinjaman melalui bank maupun pinjaman online.
Selain itu, kondisi sosial ekonomi masyarakat yang bersifat dinamis juga menjadi salah satu faktor. Kondisi kesejahteraan seseorang dapat berubah dari waktu ke waktu sehingga posisi desilnya juga memungkinkan ikut berubah.
Dini menjelaskan, data yang digunakan juga berasal dari berbagai sumber, antara lain data Pertamina, PLN, perbankan, Kementerian Sosial hingga BKKBN.
“Jadi kita tidak bisa sebut bahwa cuma satu data yang menyebabkan kenaikan desil, tapi banyak faktor yang menyebabkan bisa naik desilnya,” ujarnya.
Dini juga meluruskan anggapan yang berkembang di tengah masyarakat bahwa perubahan desil belakangan ini disebabkan oleh pelaksanaan Sensus Ekonomi.
Menurutnya, anggapan tersebut keliru karena proses Sensus Ekonomi saat ini masih berlangsung dan datanya masih dalam tahap pengolahan.
“Sebenarnya sensus ekonomi ini, informasi itu salah, bisa saya bilang, karena sampai saat ini sensus ekonomi masih belum selesai. Datanya masih kita kumpulkan dan sekarang dalam proses pengolahan,” jelasnya.
Ia menegaskan, data Sensus Ekonomi yang masih berada dalam proses pengolahan di tingkat kabupaten belum diserahkan ke pusat. Karena itu, data tersebut belum dapat disebut sebagai penyebab perubahan desil masyarakat.
BPS Kolaka Utara juga membuka ruang bagi masyarakat yang merasa desilnya tidak sesuai dengan kondisi kesejahteraan sebenarnya untuk melakukan pembaruan data secara mandiri.
Dini menyebut sejumlah kanal yang dapat digunakan masyarakat, termasuk melalui pendamping desa melalui aplikasi SIXNG, pengisian secara mandiri melalui Cek Bansos, serta datang langsung ke kantor BPS untuk mendapatkan bantuan pembaruan data.
“Silakan datang ke kantor BPS untuk dibantu untuk melakukan update mandiri,” katanya.
Menurut Dini, pembaruan desil secara reguler dilakukan setiap tiga bulan. Pembaruan terakhir dilakukan pada Juli dan selanjutnya dijadwalkan kembali pada Oktober.
Desil 1-5 Masih Berpeluang Dapat Bantuan
Terkait penerima bantuan, Dini menjelaskan masyarakat yang berada pada desil 1 hingga desil 5 masih memiliki peluang untuk menerima bantuan. Namun, prioritas utama diarahkan kepada masyarakat pada desil 1 sampai desil 4.
“Desil yang bisa menerima bantuan itu adalah desil 1 sampai desil 5. Tapi lebih difokuskan pada masyarakat dengan desil 1 sampai desil 4,” ujarnya.
Desil 5 masih dapat menerima bantuan apabila alokasi bantuan untuk desil 1 sampai desil 4 tidak seluruhnya terserap sesuai target.
Ada Mekanisme Khusus untuk PIP. Selain pembaruan reguler, BPS Kolaka Utara saat ini juga melakukan pembaruan data yang berkaitan dengan Program Indonesia Pintar (PIP).
Dini menyebut proses untuk kebutuhan PIP memiliki waktu yang lebih singkat dibandingkan pembaruan reguler. Hasil perubahan desil untuk kebutuhan tersebut dapat diketahui dalam waktu sekitar dua minggu.
Namun, perubahan tersebut tetap melalui proses verifikasi untuk memastikan kondisi penerima sesuai dengan data kesejahteraan yang sebenarnya.
“Kalau di PIP kita tidak serta-merta melakukan update langsung turun desilnya, tapi kita melakukan verifikasi lagi apakah memang sesuai desilnya atau malah bisa turun atau malah bisa naik,” jelasnya.
Dini mengimbau masyarakat Kolaka Utara tidak hanya menunggu apabila merasa data desilnya tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Masyarakat diminta aktif memanfaatkan kanal pembaruan data yang telah disediakan.
“Harapan saya masyarakat Kolaka Utara bukan cuma diam saja, tetapi sebenarnya bisa mengambil peran dengan melakukan update secara mandiri,” pungkasnya.(lea)




















