WARTASUAR.COM, KOLAKA TIMUR – Di tengah heningnya kawasan Makam Bokeo Robe, Desa Wonua Mbuteo, Kecamatan Lalandai, ritual adat Mosehe Wonua digelar dengan penuh khidmat, Senin (9/2) lalu.
Prosesi sakral yang diselenggarakan oleh Dewan Pimpinan Daerah Lembaga Adat Tolaki (LAT) Kabupaten Kolaka Timur ini, menjadi wujud nyata ikhtiar masyarakat adat Tolaki dalam menjaga kesucian negeri dan keharmonisan kehidupan sosial.
Mosehe Wonua merupakan ritual pembersihan dan pensucian wilayah yang telah diwariskan secara turun-temurun sejak masa Kerajaan Mekongga. Tradisi ini sarat makna spiritual, mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan Tuhan Yang Maha Kuasa sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan.
Melalui ritual ini, masyarakat memanjatkan doa agar Kolaka Timur senantiasa berada dalam lindungan Tuhan, dijauhkan dari marabahaya, bencana, maupun pengaruh negatif yang dapat merusak tatanan kehidupan bermasyarakat.
Ketua Panitia Pelaksana, Abd. Kadir, menegaskan bahwa Mosehe Wonua bukan sekadar seremoni adat, melainkan simbol persatuan dan penguatan nilai-nilai luhur budaya.
“Mosehe Wonua adalah pengingat bagi kita semua agar tetap menjaga keseimbangan antara adat, alam, dan kehidupan sosial. Harapannya, Kolaka Timur selalu berada dalam suasana aman, damai, dan sejahtera,” ungkapnya.
Ritual adat ini turut dihadiri oleh Plt Bupati Kolaka Timur H. Yosep Sahaka, Raja Bokeo Mekongga ke-21, Sekretaris Daerah Rismanto Runda, Kapolres Kolaka Timur, para tokoh adat, pengurus LAT Kolaka Timur, serta sejumlah tamu undangan penting lainnya.
Kehadiran unsur pemerintah, aparat keamanan, dan lembaga adat menunjukkan kuatnya sinergi dalam menjaga identitas budaya lokal sebagai fondasi pembangunan daerah. Di tengah arus modernisasi yang kian deras, nilai-nilai adat dinilai tetap relevan sebagai perekat sosial masyarakat.
Sebagai lembaga yang konsisten mengawal pelestarian budaya, Lembaga Adat Tolaki (LAT) Kolaka Timur terus berperan aktif menjaga, mengembangkan, dan mewariskan nilai-nilai adat suku Tolaki kepada generasi muda agar tetap hidup dan menjadi bagian dari jati diri daerah. (hrn)

















