WARTASUAR.COM – Kemarau panjang membuat ketersediaan air baku Perumda Air Minum Tirta Tampanama Kabupaten Kolaka Utara terus menyusut. Dari 12 sumber air baku yang tersebar di sejumlah kecamatan, satu sumber sudah mengering total, sementara sumber lainnya mengalami penurunan debit hingga 50 persen dari kapasitas ideal.
Direktur Perumda Air Minum Tirta Tampanama Kolaka Utara, Tasrim, S.Ag., M.Si., mengatakan kondisi tersebut mulai mengganggu pelayanan air bersih, terutama di wilayah yang sumber air bakunya mengalami penurunan drastis.
Hal itu disampaikan Tasrim saat diwawancarai, Kamis (29/10/2026).
“Untuk normalnya kondisi air baku tentu di atas 80 persen ideal capacity atau tekanan air ujung pipa SR 0,7 bar,” jelas Tasrim.
Penurunan debit tidak terjadi secara merata. Dari seluruh sumber yang dikelola, satu sumber telah kering 100 persen, sedangkan sumber lainnya mengalami penyusutan hingga separuh kapasitas ideal.
Wilayah layanan IKK Wawo menjadi yang paling terdampak. Lebih dari 240 pelanggan tidak lagi mendapatkan pasokan air karena sumber air baku di wilayah tersebut mengering.
Warga kini harus mencari sumber air lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Sebagian menggunakan sumur atau sumur bor, sementara lainnya mengambil air di cekdam Ulukalo/Wawo maupun sungai terdekat.
Untuk mengurangi dampak penurunan debit, PDAM melakukan sejumlah langkah teknis darurat. Upaya tersebut meliputi membendung sumber dengan karung berisi pasir, memasang kawat bronjong berlapis terpal, menggali sumber agar air cukup masuk ke intake, serta memasang pipa berdiameter delapan inci guna menambah volume air yang masuk ke instalasi pengambilan air.
Tasrim mengatakan, langkah teknis tersebut dilakukan agar pasokan air bagi masyarakat tetap tersedia di tengah kondisi sumber yang terus menyusut.
“Kami membendung sumber dengan pasir yang diisi dalam karung, membendung dengan memasang kawat bronjong kemudian kami tempelkan terpal, menggali sumber agar air cukup masuk ke intake, memasang pipa 8 inci untuk menambah volume air masuk ke intake,” ungkapnya.
Selain penanganan teknis, PDAM telah menyampaikan laporan kepada Balai Penataan Bangunan, Prasarana dan Kawasan Sulawesi Tenggara serta BPBD. Koordinasi juga dilakukan dengan Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR).
Namun, PDAM belum memiliki sumber air alternatif untuk mengantisipasi sumber yang mengering. Kondisi ini menjadi tantangan apabila kemarau berlangsung lebih lama dan sumber air lainnya ikut menyusut.
Tasrim memperkirakan, dalam tiga bulan ke depan sejumlah sumber air baku berpotensi mengalami kondisi kritis jika kemarau terus berlanjut.
“Kami prediksi tiga bulan ke depan sudah ada beberapa sumber air baku yang kritis di beberapa sumber. Kami belum siapkan langkah antisipasi, kecuali berkoordinasi dengan pemerintah dalam hal ini dinas terkait,” katanya.
Kondisi tersebut menjadi perhatian karena penurunan debit air berpotensi memperluas gangguan pelayanan. Sementara itu, pelanggan di Wawo yang sudah kehilangan pasokan masih mengandalkan sumber air lain seperi sumur, hingga sungai untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.(lea)




















