KENDARI WARTASUAR.COM – Warga binaan Rumah Tahanan Negara (Rutan) Kendari, Sulawesi Tenggara (Sultra), menunjukkan kreativitas dengan mengolah barang-barang bekas menjadi berbagai kerajinan tangan bernilai ekonomis. Kegiatan ini menjadi salah satu upaya membekali warga binaan dengan keterampilan produktif sekaligus membuka peluang usaha.
Saat ditemui awak media diruang kerjanya pada Selasa (27/10/2026), Kepala Rutan Kendari Alviantino mengatakan, sekitar 10 hingga 15 warga binaan yang memiliki kemampuan membuat kerajinan tangan terlibat dalam kegiatan tersebut. Berbagai produk yang dihasilkan antara lain kotak tisu, asbak, miniatur kapal, miniatur mobil, serta sejumlah kerajinan lainnya.
Bahan yang digunakan berasal dari barang-barang bekas yang sudah tidak terpakai, seperti koran dan kertas HVS yang digulung, kain tenun khas daerah, serta papan duplex yang dipotong sesuai ukuran. Bahan-bahan tersebut kemudian diolah dengan teliti sehingga menghasilkan produk yang menarik dan memiliki nilai jual.
Salah satu produk yang diminati adalah kotak tisu. Harganya berkisar antara Rp60.000 hingga Rp80.000 per buah, bergantung pada ukuran dan motif yang dibuat.
Menurut Alviantino, pemanfaatan barang bekas tersebut tidak hanya menjadi sarana untuk mengasah kreativitas warga binaan, tetapi juga memberikan kesempatan bagi mereka untuk menghasilkan pendapatan melalui karya yang dibuat.
Pihaknya bahkan telah memberikan sampel kerajinan tangan tersebut kepada Ibu Wali Kota Kendari. Respons yang diterima cukup positif, dengan adanya permintaan tersebut Wali Kota akan membawa produk UMKM lokal saat kunjungan kerja ke China.
“Kami sempat memberikan sampel kepada Ibu Wali Kota Kendari. Beliau meminta agar kerajinan ini diproduksi dan bisa dibawa saat kunjungan kerja ke China,” ujarnya.
Ia menjelaskan, hasil penjualan kerajinan tangan tersebut nantinya akan diberikan kepada warga binaan yang berkontribusi dalam proses produksi.
Ditempat yang sama Desril Kasubsi Bimker mengatakan, melalui kegiatan ini, Rutan Kendari berharap warga binaan dapat terus mengembangkan keterampilan, meningkatkan kreativitas, serta memperoleh pengalaman dalam menghasilkan produk yang memiliki nilai ekonomi.
Lebuh lanjut kata Desril, selain menjadi kegiatan pembinaan selama menjalani masa tahanan, keterampilan tersebut diharapkan dapat menjadi bekal bagi warga binaan ketika kembali ke tengah masyarakat, sehingga mampu hidup mandiri dan produktif. (End)




















